Thursday, June 14, 2012

Muliakanlah Mereka

Muliakanlah Mereka

At Tauhid edisi VIII/13
Oleh: Abu Mushlih Ari Wahyudi, S.Si

Muliakanlah Mereka
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah… Keimanan kita kepada agama Islam tidak mungkin  dipisahkan dengan penghormatan kepada orang-orang yang sangat besar jasanya kepada kita. Mereka adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang telah menginfakkan umurnya untuk membela dakwah dan menyampaikannya kepada generasi sesudahnya.

Setiap mukmin tentu jatuh cinta ketika membaca pujian demi pujian yang Allah dan Rasul-Nya tujukan kepada mereka. Setiap muslim pun akan terharu tatkala melihat besarnya pengorbanan yang mereka berikan demi tegaknya agama! Karena bagi mereka iman dan tauhid jauh lebih berharga di atas segala kenikmatan dunia. Bukan hanya harta, waktu, pikiran, dan tenaga yang mereka curahkan. Bahkan nyawa pun rela untuk mereka persembahkan…

[1] Surga Untuk mereka
Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang telah mendapat janji Surga dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebuah keistimewaan yang tidak bisa ditukar dengan emas. Bahkan, dunia dan seisinya tidak ada apa-apanya dibandingkan secuil kenikmatan di Surga! Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridhai mereka, dan mereka pun meridhai-Nya. Allah sediakan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang sangat besar.” (QS. at-Taubah: 100)

[2] Mereka Sebaik-baik Manusia
Apabila kita ingin menjadi orang baik, tentu saja kita ingin meniru dan mempelajari keteladanan orang-orang yang baik pula. Kebaikan yang dengannya kita akan selamat dari azab Allah dan meraih keutamaan di sisi-Nya. Sementara para Sahabat adalah barisan terdepan dari orang-orang terbaik di muka bumi ini. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di jamanku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang-orang sesudahnya yang mengikuti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[3] Tidak Ada Yang Menandingi Mereka
Adakah diantara kita orang kaya raya yang mampu dan mau berinfak emas sebesar gunung? Kalaupun ada, ketahuilah bahwa infak semahal itu belum bisa mengalahkan infak seorang Sahabat, walaupun hanya segenggam tangan! Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela para Sahabatku! Seandainya salah seorang diantara kalian ada yang berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan bisa menandingi kualitas infak mereka yang hanya satu mud/genggaman dua telapak tangan, bahkan setengahnya pun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[4] Para Sahabat Laksana Bintang
Para Sahabat adalah penjaga (Kebenaran dan Keutuhan) umat ini. Ketika mereka pergi maka berbagai masalah dan kekacauan pun merebak di tengah umat manusia. Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu lenyap maka akan menimpa langit apa yang dijanjikan atasnya (kehancuran). Aku adalah penjaga bagi para Sahabatku. Apabila aku pergi maka akan menimpa mereka apa yang dijanjikan atas mereka. Para Sahabatku juga menjadi penjaga bagi umatku. Apabila para Sahabatku telah pergi maka akan menimpa umatku apa yang dijanjikan atas mereka.” (HR. Muslim)

[5] Deretan Sahabat Terbaik
Siapakah yang meragukan keutamaan para Sahabat terbaik semacam Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhum​? Putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang bernama Muhammad bin al-Hanafiyah pernah bertanya kepada ayahnya, “Aku bertanya kepada ayahku: Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Beliau menjawab, “’Umar.” Dan aku khawatir jika beliau mengatakan bahwa ‘Utsman adalah sesudahnya, maka aku katakan, “Lalu anda?”. Beliau menjawab, “Aku ini hanyalah seorang lelaki biasa di antara kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

Mereka adalah orang-orang terbaik yang menjadi teladan bagi kaum muslimin dalam hal ilmu dan amalan, contoh dalam hal kejujuran dan kedermawanan, teladan dalam hal keberanian dan kesabaran. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhu’anhuma berkata, “Dahulu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup kami memilih-milih siapakah orang yang terbaik. Maka menurut kami yang terbaik di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan. Semoga Allah meridhai mereka semuanya.” (HR. Bukhari)

[6] Keselamatan Dengan Mengikuti Mereka
Berbagai macam konflik dan persengketaan yang timbul semenjak wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpulangnya generasi terbaik merupakan sunnatullah atas hamba-hamba-Nya. Tidak ada jalan keluar darinya selain berpegang teguh dengan Sunnah beliau dan Sunnah para Khalifah yang lurus dan terbimbing oleh hidayah. Dari al-’Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku, niscaya akan melihat banyak perselisihan.

Oleh sebab itu wajib atas kalian untuk mengikuti Sunnahku dan Sunnah para Khulafa’ur rasyidin yang berada di atas petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya, dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata: hadits hasan sahih)

[7] Bagaimana Sikap Kita?
Dengan mencermati dalil-dalil di atas, teranglah bagi kita -kaum muslimin- bahwa kecintaan dan pemuliaan kepada para Sahabat radhiyallahu’anhum merupakan sebuah kewajiban dan kebenaran yang tidak boleh diragukan. Maka bukanlah perilaku seorang muslim yang baik, menjelek-jelekkan para Sahabat, menuduh mereka berkhianat, membenci mereka, apalagi sampai mengkafirkan mereka!!

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kita mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang diantara mereka. Kita juga tidak berlepas diri dari siapapun diantara mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjatuhkan kehormatan mereka. Kita tidak menyebutkan mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta kepada mereka adalah termasuk bagian agama, ajaran keimanan dan sikap ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap yang melampaui batas.” (lihat al-’Aqidah ath-Thahawiyah)

al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah meriwayatkan bahwa Imam Abu Zur’ah ar-Razi mengatakan, “Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas untuk dicela, dan mereka itu adalah orang-orang zindik.” (lihat kitab al-Kifayah)

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Termasuk Sunnah adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang diantara mereka maka dia adalah seorang tukang bid’ah pengikut paham Rafidhah/Syi’ah. Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama- dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.” (lihat kitab beliau as-Sunnah)

[8] Doa Untuk Mereka dan Untuk Kita
Sebagai orang-orang yang telah mendapatkan hidayah kepada Islam sudah selayaknya kita berterima kasih kepada para pendahulu kita. Karena melalui dakwah dan perjuangan mereka (baca: para Sahabat Nabi) ajaran-ajaran Islam ini tersampaikan kepada kita. Dikatakan dalam sebuah riwayat, “Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia.” Apa yang bisa kita berikan untuk para Sahabat kalau bukan doa agar mereka -dan juga kita- senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan dari-Nya. Inilah doanya orang-orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun orang-orang yang datang sesudah mereka -sesudah Muhajirin dan Anshar- berdoa; Robbanaghfirlanaa wa li ikhwaaninalladziina sabaquuna bil iimaan, wa laa taj’al fii quluubinaa ghillal liliadziina aamanuu. Robbanaa innaka ro’uufurr rahiim. “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah terlebih dahulu beriman sebelum kami, dan janganlah Kau jadikan di dalam hati kami ada perasaan dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Lembut lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang di dalam hatinya terdapat perasaan dengki terhadap kaum mukminin terbaik dan pemimpin para wali Allah ta’ala setelah para Nabi. Bahkan Yahudi dan Nasrani memiliki satu kelebihan di atas mereka (Pendengki). Orang Yahudi ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat Musa.” Orang Nasrani ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pemeluk agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat ‘Isa.” Kaum Rafidhah/Syi’ah ditanya, “Siapakah orang-orang terjelek diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para Sahabat Muhammad.” Mereka tidak mengecualikan kecuali sedikit sekali. Bahkan diantara orang yang mereka cela itu terdapat orang yang jauh lebih baik daripada yang mereka kecualikan.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah) [Abu Mushlih Ari Wahyudi, S.Si]

:: Artikel ini disarikan dari kitab Qothful Jana ad-Daani Syarh Muqoddimah Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani (hal. 155-165) karya seorang ulama ahli hadits di kota Madinah Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbad al-Badr hafizhahullah, dengan beberapa penambahan dan penyesuaian.
Readmore »

Description: Muliakanlah Mereka Rating: 5 Reviewer: Rizal Romadhoni Hidayatullah ItemReviewed: Muliakanlah Mereka

Bertaubatlah Saudaraku!

Bertaubatlah Saudaraku!

Bertaubatlah Saudaraku!
Terjatuh ke dalam dosa dan maksiat, pasti pernah dilakukan oleh setiap manusia. Tidak ada manusia yang ma’shum (terjaga) dari kesalahan dan dosa, kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan para Sahabat beliau sekali pun tidak luput dari yang namanya kesalahan. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Sebagai hamba yang ta’at, kita harus memiliki sikap yang benar tatkala terjatuh ke dalam dosa dan maksiat. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah orang yang banyak bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi, hasan). Oleh karena itu, hendaknya kita segera memohon ampun kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ‎”Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Hadid: 21)
Readmore »

Description: Bertaubatlah Saudaraku! Rating: 5 Reviewer: Rizal Romadhoni Hidayatullah ItemReviewed: Bertaubatlah Saudaraku!

Bacaan Al Quran (audio) serta terjemahan (teks)

Bacaan Al Quran (audio) serta terjemahan (teks)

Bismillahirahmanirahim,

Semoga Allah memberkati umur kita dan amal kita. Amin.

Salah satu website yang terbaik dengan bacaan Al Quran oleh ramai Qari2 yang terkenal dan Makna terjemahan dalam pelbagai bahasa ( termasuk Malaysian, Indonesian, English, etc)..

Senarai Qari : Mishari Rashid, Mahmood AlBana, Mahir Al Muayqali, Khalil Husari, As Sudays Shraym, Abu Bakr Shatry, Abdul Baasit, Saad Al Ghamdi, Salah Bukhatir, Sheikh Ahmed Ajmi, Sheikh Basfar, Sheikh Minshawi, Shiekh Al Huzaifi
Mohon cuba dengar.. disini

al-quran
Readmore »

Description: Bacaan Al Quran (audio) serta terjemahan (teks) Rating: 5 Reviewer: Rizal Romadhoni Hidayatullah ItemReviewed: Bacaan Al Quran (audio) serta terjemahan (teks)

Iman Kepada Kitabullah

Iman Kepada Kitabullah

Diturunkannya kitab-kitab kepada umat manusia adalah salah satu bukti bimbingan dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah sebagai Rabb alam semesta dan Dzat Yang Maha Penyayang tidak mungkin membiarkan umat manusia kebingungan dalam hidupnya. Oleh sebab itu Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul untuk membimbing mereka.




[1] Salah Satu Rukun Iman

Iman kepada kitabullah adalah salah satu rukun Iman. Suatu ketika, malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk seorang lelaki yang bajunya sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya kepada Nabi tentang Islam. Diantara pertanyaan yang diajukannya adalah tentang iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Yaitu kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan juga kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang mengingkari/kufur kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat jauh.” (QS. an-Nisaa’: 136)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Rasul telah beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Masing-masing beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara para rasul-Nya. Mereka semua berkata, “Kami mendengar dan kami patuh. Ampunilah kami, wahai Rabb kami. Dan kepada-Mu lah tempat kami kembali.” (QS. al-Baqarah: 285)

[2] Makna Iman Kepada Kitabullah

Iman kepada Kitabullah artinya adalah kita membenarkan dengan pasti bahwa Allah ta’ala telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya. Kita meyakini bahwa kitab-kitab itu merupakan ucapan Allah (kalamullah). Mengimani kitab-kitab itu secara umum -yang disebutkan namanya maupun tidak dan secara khusus –yaitu yang disebutkan namanya seperti al quran- (lihat Kitab at-Tauhid li ash-Shaff ats-Tsani al-’Ali)

Kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelum al-Qur’an adalah Suhuf Ibrahim dan Musa, Taurat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, Zabur yang diturunkan Allah kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam, dan Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Kita wajib mengimani bahwa kitab-kitab tersebut adalah wahyu dari Allah dan mengajak kepada inti ajaran yang sama dengan al-Qur’an yaitu untuk mengesakan Allah dalam beribadah (tauhid). Semua kitab suci tersebut sepakat dalam pokok-pokok ajaran, walaupun berbeda dalam hal syari’at/peraturan (lihat Kitab at-Tauhid li ash-Shaff ats-Tsani al-’Ali)

[3] Iman Kepada al-Qur’an

al-Qur’an al-Karim diturunkan oleh Allah kepada penutup nabi dan rasul yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah Kitabullah terakhir yang diturunkan bagi umat manusia dan menghapuskan syari’at-syari’at sebelumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr/al-Qur’an supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka mau berpikir.” (QS. an-Nahl: 44).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku dari kalangan umat ini, entah dia Yahudi atau Nasrani, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk penduduk neraka.” (HR. Muslim)

[4] al-Qur’an Berisi Petunjuk

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 1-2). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya al-Qur’an ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.” (QS. al-Israa’: 9).

Dan yang paling penting adalah mengajarkan manusia untuk mentauhidkan Allah :

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus seorang pun rasul sebelum engkau -wahai Muhammad- melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. al-Anbiyaa’: 25)

Sesungguhnya tadabbur/merenungkan ayat-ayat al-Qur’an merupakan pintu gerbang hidayah bagi kaum yang beriman. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya?” (QS. Muhammad: 24). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak merenungi al-Qur’an, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan.” (QS. an-Nisaa’: 82)

[5] al-Qur’an Rahmat dan Obat

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia! Sungguh telah datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu al-Qur’an), obat bagi penyakit yang ada di dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan dari al-Qur’an itu obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Israa’: 82)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an itu mengandung ilmu yang sangat meyakinkan yang dengannya akan lenyap segala kerancuan dan kebodohan. Ia juga mengandung nasehat dan peringatan yang dengannya akan lenyap segala keinginan untuk menyelisihi perintah Allah. Ia juga mengandung obat bagi tubuh atas derita dan penyakit yang menimpanya.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman)

[6] Meraih Kemuliaan Dengan al-Qur’an

Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dari ‘Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan Madinah, pent). Pada waktu itu ‘Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka ‘Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”. Nafi’ menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” ‘Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?”. Maka Nafi’ menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” ‘Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.” (HR. Muslim)

[7] Bacalah al-Qur’an!

Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah al-Qur’an! Sesungguhnya kelak ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa’at bagi penganutnya.” (HR. Muslim). Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki yang diberikan ilmu oleh Allah tentang al-Qur’an sehingga dia pun membacanya sepanjang malam dan siang maka ada tetangganya yang mendengar hal itu lalu dia berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.” Dan seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya maka dia pun menghabiskan harta itu di jalan yang benar kemudian ada orang yang berkata, “Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.”.” (HR. Bukhari)

[8] al-Hadits Sebagai Penjelas al-Qur’an

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. an-Nisaa’: 59). Maimun bin Mihran berkata, “Kembali kepada Allah adalah kembali kepada Kitab-Nya. Adapun kembali kepada rasul adalah kembali kepada beliau di saat beliau masih hidup, atau kembali kepada Sunnahnya (hadits) setelah beliau wafat.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa menaati rasul itu maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. an-Nisaa’: 80). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Rasulullah, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir.” (QS. al-Ahzab: 21). Mak-hul berkata, “al-Qur’an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah dibandingkan kebutuhan as-Sunnah kepada al-Qur’an.” Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya as-Sunnah itu menafsirkan al-Qur’an dan menjelaskannya.” (lihat ad-Difa’ ‘anis Sunnah).

Wallahu a’lam bish shawab. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.
Readmore »

Description: Iman Kepada Kitabullah Rating: 5 Reviewer: Rizal Romadhoni Hidayatullah ItemReviewed: Iman Kepada Kitabullah

SHODAQOH, PELEBUR DOSA dan PENANGKAL MUSIBAH

SHODAQOH, PELEBUR DOSA dan PENANGKAL MUSIBAH

SHODAQOH, PELEBUR DOSA dan PENANGKAL MUSIBAH
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata: Nabi SAW bersabda tentang apa yang beliau terima dari Allah : “Seorang hamba Allah berbuat dosa, lalu berdoa: Wahai Tuhanku! Ampunkanlah dosaku. Allah SWT berfirman: Hamba-Ku telah melakukan dosa, tetapi dia tahu bahwa ia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukumnya karena dosanya.




Kemudian hamba Allah tersebut kembali melakukan dosa, lalu berdoa: Wahai Tuhanku! Ampunkanlah dosaku. Allah berfirman: Hamba-Ku melakukan dosa, tetapi dia tahu bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukumnya karena dosanya. Kemudian hamba Allah tersebut kembali melakukan dosa, lalu berdoa: Wahai Tuhanku! Ampunkanlah dosaku. Allah berfirman: Hamba-Ku melakukan dosa, tetapi dia tahu bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukumnya karena dosanya.

Oleh karena itu berbuatlah sesukamu, Aku akan ampuni dosamu. Hamba tersebut berkata: Aku tidak tahu sehingga yang ketiga kalinya atau yang keempat kalinya aku meminta ampunan, tetapi Allah tetap berfirman: Berbuatlah sesukamu, Aku tetap akan mengampuni dosamu.

1. Riwayat Bukhari di dalam Kitab Tauhid hadits nomor 6953
2. Riwayat Muslim didalam Kitab Taubat hadits nomor 4953

BENAR ! …. Meski Allah akan dan selalu mengampuni dosa-dosa hamba-Nya yang beriman karena Allah Maha Pengampun, akan tetapi yang tidak banyak diketahui hamba-Nya, bahwa pengampunan dosa tersebut terkadang harus ada syaratnya, yakni KAFAROT (peleburan dosa), padahal kafarot tersebut seringkali diturunkan dalam bentuk MUSIBAH atau UJIAN HIDUP manakala orang yang mau bertaubat itu tidak suka bershodaqoh.

Tentang KAFAROT atau peleburan dosa ini Allah Ta’ala menegaskan dengan firman-Nya :
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ

”Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya”.(QS.Al-Ma’idah/54)

Disamping musibah dan ujian hidup itu sebagai kafarot, sesungguhnya juga bertujuan sebagai pelajaran bagi yang mampu mengambil hikmahnya. Namun oleh karena tidak semua hati orang beriman siap menerima musibah, kebanyakan lebih memilih senang daripada susah, maka dengan musibah itu bisa jadi malah menjadikannya semakin terjebak dalam dosa. Itu apabila musibah tersebut tidak mampu diterima dengan hati selamat hingga berkembang menjadi fitnah yang berkepanjangan.

Oleh sebab itu, disamping orang beriman harus selalu bertaubat kepada Tuhannya, juga hendaknya rajin bershodaqoh. Shodaqoh itu diniatkan mengeluarkan kafarot bagi dosa-dosa yang sengaja dilakukan maupun yang tidak. Jadi, disamping shodaqoh itu merupakan kafaror dan penangkal musibah juda pelicin kehidupan untuk menggapai segala kesuksesan, karena ketika sumbatan telah terbuka maka jalan kehidupan menjadi lancar.
Readmore »

Description: SHODAQOH, PELEBUR DOSA dan PENANGKAL MUSIBAH Rating: 5 Reviewer: Rizal Romadhoni Hidayatullah ItemReviewed: SHODAQOH, PELEBUR DOSA dan PENANGKAL MUSIBAH

Recent Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...